PIKOM IMM FKIP UMS Rappang Gelar Touring Culture, Simak Agendanya!

0
100

SIDRAP, MEDITEK.ID – Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah FKIP UMS Rappang melakukan kegiatan Touring Culture pada hari Ahad, (26/06/2022).

Dalam kegiatan ini, lokasi pertama yang kami kunjungi ialah proses pembuatan pisau di daerah Massepe. Massepe merupakan salah satu daerah yang paling banyak dikunjungi sebagai pusat pembelanjaan atau wisata besi. Mereka banyak berdatangan dari berbagai daerah, mulai dari Bantaeng, Makassar, daerah Sidrap itu sendiri, dan beberapa daerah yang lain.

Kebanyakan, bahan baku utama yang mereka gunakan berasal dari surabaya, selanjutnya pekerja di massepe yang kemudian membentuk dan mengolah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, misalnya pisau, bangkung, pattora’ (cangkul tanaman), sabit, dsb. Selain itu, dalam pembuatannya memerlukan teknik khusus. Misalnya pada pembuatan sabit, panjang besi harus sama agar mudah dibentuk, atau ketika membakar besi jangan sampai suhu besi terlalu panas karena bisa menyebabkan besi patah, rusak, dan tidak bisa digunakan lagi.

Menjadi pekerja besi merupakan satu dari sumber mata pencaharian masyarakat Massepe. Tak jarang, mereka bekerja sudah puluhan tahun. Mereka biasa menghasilkan sebanyak 20 buah alat perhari.

Sebagian dari mereka juga bekerja sebagai pedagang. Tugasnya untuk mendistribusikan hasil yang telah mereka buat dengan berkeliling kampung bahkan ke luar daerah Massepe.

Setelah melihat proses pembuatan besi menjadi sebuah alat, kami berpindah ke lokasi selanjutnya yakni Mesjid Tua Jerrae. Mesjid tua Jerra’e didirikan pada tahun 1609 M oleh Addatuang Sidenreng La Patiroi, Syeh Bojo setelah satu tahun masuknya Islam di Sidenreng tahun 1608M.

Mesjid tertua ke 4 di Sulawesi Selatan Mesjid yang beberapa kali di renovasi antara lain, antara tahun 1670- 1850 renovasi diganti atap tetap antara tahun 1850- 1925 2 kali diganti dengan cipta dipelopori oleh Ado Bellang. Tahun 1927 atap Mesjid diganti dengan seng hingga tahun 1987 atap seng diperbaharui kembali yang pada awalnya dinding mesjid terbuat dari papan dan tahun 1925 dinding diganti dengan seng. Tahun 1940 dinding seng diganti dengan tembok setengah pemugaran dilakukan oleh iman mesjid (Iman Toiyeb). Tahun 1982 dilakukan pengukuran renovasi oleh Kandep Dikbud Kabupaten ke Kantor Suaka Sejarah Nasional dan tahun 1984 renovasi dilaksanakan oleh Kantor Suaka peninggalan Nasional Kanwil Dikbud Provinsi, kemudian tahun awal tanggal 9 september 2018 renovasi dilaksanakan oleh bapak Drs. H Asri Syamsuddin, M. Si dari atap, dinding, pagar, pintu gerbang dan tempat wudhu.

Mesjid ini adalah salah satu icon Sidrap. Sebagai penerus generasi, kita harus merawat, menjaga, dan melindungi warisan yang ada di daerah kita.

Lokasi terakhir ialah ke Pembuatan batu nisan. Bertempat di Allakkuang, Kab. Sidrap. Pekerjaan ini juga sebagai sumber mata pencaharian masyarakat sekitar Allakkuang. Mereka mengambil bahan bakunya dengan mengikis batu di gunung (gunung Nene Mallomo), diproses di pabrik kemudian mengukir batu nisan tersebut sesuai dengan keinginan konsumen. Kemudian diperjualbelikan sampai seharga 700 ribu rupiah.

Profesi ini kerap kali ingin diberhentikan karena ilegal dan akan merusak gunung. Tapi masyarakat terus berjuang karena sumber penghasilan mereka mayoritas bekerja sebagai pembuat batu nisan.

“Ya, mau gimana lagi nak, ini merupakan sumber mata pencaharian kami satu-satu nya, kalau hal ini diberhentikan kami semua kehilangan pekerjaan dan menganggur. Batu nisan ini dibuat dengan motif- motif kreatifitas mereka masing-masing,” ujar pak Sulaiman.

Terakhir, kami menutup kegiatan Touring Culture Pikom FKIP UMS Rappang dengan foto bersama.

“Dengan adanya kegiatan ini, semoga menjadi ilmu dan informasi baru bagi pimpinan dan bisa menambah semangat untuk menjaga culture yang ada di daerah kita,” kata Acci.

Ab’ba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here