Perintah Menginfakkan Harta Sebelum Datangnya Maut 

0
105

MEDITEK.IDSetiap makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhana Wataalah tidak ada yang kekal, semua akan berakhir pada suatu saat, hanya Allah Subhana Wataalah yang kekal selama-lamanya, hal ini sudah diingatkan oleh Allah Subhana Wataalah dalam Surah Ar-rahman ayat 26 – 27.

26.  Semua yang ada di bumi itu akan binasa. 27.  Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (Qs. Ar-rahman:26-27).

Manusia sebagai salah satu makluk ciptaan yang telah diberi ruh oleh Allah  akan mengalami kebinasaan atau kematian  pada saat ajalnya telah tiba, hal ini telah diingatkan oleh Allah dalam Surah  Ali-Imran ayat 185.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Qs. Ali_imran:185).

Sebelum kematian datang menjemput pada seseorang, Allah subhana Wataalah memerintahkan kepada  mereka  yang dititipi harta oleh Allah untuk segera menginfakkan di Jalan yang diridhai oleh Allah Subhana Wataalah, sebab kalau itu tidak dilakukan maka penyesalan yang akan terjadi diri orang tersebut dan ia akan memohon kepada Allah agar mereka diberi kesempatan sejenak untuk kembali dihidupkan supaya mereka dapat menginfakkan reski yang ada padanya dan ingin menjadi orang-orang yang saleh, hal ini diungkapkan dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10.

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang Telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, Mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan Aku dapat bersedekah dan Aku termasuk orang-orang yang saleh?”(Qs. Al-Munafiqun:10).

Ayat ini menjelaskan kepada kita agar tidak menumpuk-numpuk harta lalu menahannya, tidak mengeluarkan infak dan sedeqah serta zakatnya. Betapa banyak orang yang hartanya begitu banyak dan tidak berhenti menimbung, bahkan dengan jalan yang bathil mereka tidak peduli yang penting mereka dapat menambah dan menambah terus kekayaannya, lahan yang dikuasai berhektar-hektar, rumah ada di mana-mana, mobil berjejer, saham yang ditanam luar biasa, deposito uang di bank yang luar biasa, pada akhirnya menjelang ajalnya mereka tersadar kalau harta yang selama ini dikuasai tidak membawa manfaat apa-apa lagi, harta yang mereka miliki tidak dapat menolong di hadapan Allah, sehingga ia memohon agar ia dapat dikembalikan ke dunia ini sekalipun beberapa menit atau detik untuk menginfakkan hartanya di jalan Allah Subhana Wataalah, hanya saja permohonan seseorang dalam kondisi nyawa diujung kerongkongan tidak lagi diterima oleh Allah Subhana Wataalah.  Allah menjawab  permohonan orang tersebut:

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila Telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan (Qs. Al-Muanfiqun:11).

Inilah penyesalan orang-orang yang dititipi harta oleh Allah yang tidak ada gunanya, sebab pintu untuk bertobat dan berbuat baik tidak akan dibuka lagi oleh Allah Subhana Wataalah bagi seorang hamba jika nyawa sudah sampaik kerongkongan, hal ini diungkapkan sebuah hadits:

Allah SWT menerima tobat hamba-Nya selama napasnya belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Harta sesungguhnya yang akan di bawah oleh seseorang menghadap Rab-Nya adalah apa yang diinfakkan di jalan Allah, seperti menyantuni anak yatim piatu, memberi makan orang miskin, jihad di jalan Allah Subhana Wataalah, hibah atau wakaf untuk kemaslahatan ummat dan lain-lain, sedangkan apa yang disimpan akan tinggal di dunia ini, dan boleh jadi menjadi sebab perselisihan orang-orang yang ditinggalkan, sehingga dapat saja menjadi sumber musibah bagi keturunan atau ahli waris yang ditinggalkan, oleh karena itu sebaiknya bawalah harta itu menghadap Allah dengan cara menitipkan orang lain, agar mereka dapat membantu meringankan beban harta di hadapan Allah Subhana Wataalah.

Oleh: Ustadz Nurdin Mappa

Editor: Ab’ba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here