Dosa Kepemimpinan

1
312

Ditulis oleh: Supriadi
(Ketua Umum PK IMM FAPERTA Unismuh Makassar 2021-2022)

OPINI, MEDITEK.ID  – Kepemimpinan layaknya fitrah yang melekat pada diri setiap mahasiswa, tidak heran jika mahasiswa dijadikan sebagai calon pemimpin ideal untuk mengisi kedudukan strategis bangsa indonesia dengan keterampilan terlatih dan mengakarnya nilai idealisme murni pada diri masing-masing sehingga harapan bangsa berada di pundak seorang mahasiswa, dengan melatih hal tersebut bukan hanya dengan taat akademik akan tetapi, juga harus mengikuti agenda wajib gelaran atmosfer organisasi dimanapun dan apapun itu seyogyanya mengajak kearah kebaikan kolektif dengan berbagai semboyan perjuangan yang menjadi motivasi perjuangan kolektif anggotanya, tidak ada tempat khusus kepemimpinan itu dan juga tidak memiliki ijazah karena kepemimpinan terbentuk dilapangan dan area organisasi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menjadi organisasi skala nasional tempat menimba ilmu kepemimpinan bagi mahasiswa dengan ideologisnya yang khas seiringan dengan Muhammadiyah itu sendiri karena tidak dipungkiri IMM menjadi organisasi ortom Muhammadiyah, sehingga kader memiliki tanggung jawab yang sangat besar apabila Muhammadiyah mengalami keterlambatan berpikir dan mengalami krisis pemimpin yang terjadi karena IMM sebagai intelektual muda milik Muhammadiyah.

Nilai luhur kemurnian akhlak serta kepribadian keteladanan dalam bermusyawarah dan menjalani kepemimpinan menjadi magnet yang mampu menarik banyak calon pemimpin untuk memilih serta mengasah kepemimpinan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah regional kota Makassar khususnya kuantitas dan kualitas kader yang mempuni memang menjadi bumerang berbahaya. Hal tersebut terjadi ketika skema pembinaan calon pemimpin di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah hanya di cekoki hegemoni simbolis semata tidak dibarengi nilai kepemimpinan yang luhur serta intelektual berkepribadian profetik yang menjadi slogan seorang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sehingga tidak jarang lahir pemimpin skala komisariat, cabang bahkan daerah, hadir pemimpin skala prioritas bukan skala kapasitas yang menjadi tamparan kelak bagi kita dalam konsistensi memegang nilai luhur yang selalu digaungkan dalam setiap perkaderan ikatan.

Hal ini akan membuat paradigma dan mental kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mengalami degradasi moral bahkan lumpuh pada kebenaran dan buta dalam melihat keadilan. hal ini sudah jauh melenceng dalam nilai kepemimpinan, dengan kata lain pemimpin yang lahir dari rahim IMM yang lemah dalam melawan ketidakadilan dalam tubuh ikatan serta tidak berdaya saat melawan penyimpangan dari pendahulu yang berasal satu rahim pemimpin dengan pemimpin saat ini.

Nilai kepemimpinan ideal akan lahir dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang merdeka bereksperimen dalam wacana, perjuangan, dan kebebasan dalam menjalankan kepemimpinan, sehingga tidak terkungkung pada paradigma “kakanda iya” yang menjadi penyakit kronis menggerogoti kepemimpinan.

Semoga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tetap konsisten berdiri di kebenaran dan senantiasa memperjuangkan keadilan oleh pemimpin-pemimpin yang terlahir dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Editor : Tim Redaksi 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here